Senin, 28 Juli 2008

Work is Where You Play


”Work is Where You Play”

JUDUL di atas saya temukan pada sebuah gedung perkantoran baru di Malang. Work is Where You Play. Terjemahan bebasnya, bekerja dan bermain itu mestinya menyatu, di sinilah tempatnya. Tetapi saya ragu, mungkin yang ditawarkan oleh iklan ini sekadar promosi gedung yang dianggap mengasyikkan, bukannya kualitas dan jenis pekerjaan sebagaimana pesan judul di atas. Ciri bermain adalah adanya antusiasme untuk meraih prestasi dengan insentif kepuasan emosional, bukannya material.
Orang yang asyik bermain akan lupa waktu. Perhatikan saja para pemain bola kaki, tenis, atau golf, rasanya waktu masih kurang begitu permainan dinyatakan berakhir.Terlebih pada golf, selalu saja ada nafsu untuk memperbaiki kekurangan dan kesalahan yang telah diperbuat agar tidak terulang pada hole berikutnya atau permainan di hari lain. Andaikan suasana kerja seantusias bermain, pasti perusahaan dan negara tak akan bangkrut.
Tentu saja bermain hanyalah selingan dalam hidup. Hidup mesti diisi kerja produktif. Salah satu yang membuat semangat dalam bekerja adalah insentif gaji. Tetapi hubungan semangat kerja dan gaji tidak selalu memiliki korelasi positif, terutama di kalangan pegawai negeri sipil tingkat bawah, sehingga populer istilah PGPS, pinter-goblok penghasilan sama. Yakin bahwa jumlah gaji tak bertambah sekalipun kerja meningkat, maka gaji bulanan lama-lama kehilangan daya dorong untuk membuat seseorang bekerja lebih kreatif dan produktif.
Yang menyedihkan, mereka yang memiliki jabatan lalu menciptakan dan mengejar insentif di luar gaji—yang sejak awal kebijakan itu diatur sedemikian rupa sehingga yang terjadi tak lebih sebagai praktik korupsi terselubung. Bekerja dengan cara demikian ibarat permainan, mereka bermain kotor, curang, dan kalaupun menang puasnya semu. Sebuah kemenangan bohong-bohongan.

You Are What You Do
Harga diri seseorang akan terbentuk dan terukur oleh hasil karya. Bekerja adalah dorongan, tuntutan, dan kebutuhan manusia sebagaimana makan, bernafas, ataupun tidur. Kerja adalah kebutuhan eksistensial. Bayangkan bila dalam seminggu hari kerja hanya dua hari, selebihnya menganggur, pasti tidak membuat manusia bahagia. Menganggur, tidak ada aktivitas dan penghasilan, akan menggerogoti harga diri dan kebahagiaan. Kebahagiaan hidup diraih dengan kerja produktif yang bermakna bagi orang lain. Yang paling ideal adalah jika seseorang bisa menyatukan antara hobi dan bekerja yang sekaligus mendatangkan insentif uang dan penghargaan masyarakat. Kerja semacam itu pasti menggairahkan sebagaimana kita bermain atas dasar hobi, namun mendatangkan uang dan menggembirakan orang lain.
Dalam konteks ini adalah para pekerja seni yang mendekati kriteria dimaksud. Bercampur antara bermain, bekerja, dan menghibur orang lain. Karena itu, pemain piano yang sedang manggung dan bermain secara total, misalnya, ketika sudah hanyut dalam permainan bisa lupa apakah permainan itu ditonton orang atau tidak.
Dia tidak peduli. Begitu juga atlet sejati. Tidak lagi ada batas antara bekerja dan bermain serta aktualisasi diri. Bintang sepak bola dunia begitu turun ke lapangan bagaikan penari naik panggung, atau perenang masuk kolam, mereka lebur secara total ke dalamnya, tak lagi memikirkan insentif uang.
Makanya ada nasihat, kalau Anda sedang bertanding tenis, misalnya, fokus dan leburlah dalam permainan, jangan sering-sering melihat papan nilai karena akan merusak permainan. Orang yang fokus pada insentif akan menomorduakan pekerjaan, tetapi jika seorang profesional berkarya secara optimal, insentif akan mengejar dan melayaninya.

Mengubah Makna Kerja
Orang yang bekerja tanpa skill dan hati, akan membuat ruang kerjanya berubah menjadi ruang tahanan sehingga judul di atas berubah menjadi: Work is Where You are Becoming a Prisoner. Bekerja tanpa skill, spirit pengabdian, dan cinta pada profesi akan terasa sangat melelahkan, bahkan menyiksa. Begitu masuk ruang kerja, Anda tiba-tiba secara psikologis masuk ruang tahanan. Padahal rumus yang ideal: 9 to 5 is a happy hour.
Situasi inilah yang mungkin dinikmati oleh para pekerja seni dan atlet profesional.
Mestinya, jenis pekerjaan apa pun bisa diubah atau diciptakan sebagai aktualisasi diri yang mengasyikkan sehingga seseorang bekerja melebihi jatah waktu dan target. Hidup, berkarya, dan bermain dikondisikan agar menjadi satu paket, three in one. Bukankah hidup itu sendiri sebuah anugerah Tuhan yang harus dirayakan dengan kerja kreatif, produktif, dan konstruktif ?
Dengan semakin majunya teknologi modern, sekarang ini sangat memungkinkan menciptakan suasana kerja lebih nyaman dan menyenangkan tanpa mengurangi produktivitas. Lebih dari sekadar tempat bekerja, suasana kantor mestinya juga diubah agar menjadi suatu komunitas eksklusif dengan aura kekerabatan dan pertemanan yang semuanya tetap memiliki komitmen menjaga etika profesionalisme.
Orang yang bekerja namun tidak memiliki kebanggaan dan kepuasaan atas hasilnya disebut ”alienated person”, yaitu pribadi yang tercerabut dan tersingkir dari apa yang dia lakukan. Lebih parah lagi kalau seseorang benci pada pekerjaannya, lalu berkembang pada lingkungan sosialnya. Orang itu akan mengalami kepribadian yang terbelah dan lebih jauh lagi bisa disebut sakit mental. Jika tidak bekerja takut akan bayang-bayang pengangguran, jika tidak bekerja tidak akan memiliki penghasilan tetap, sementara kalau masuk kerja juga merasa tersiksa. Inilah yang dimaksud teralienasi, saat seseorang tidak lagi menjadi tuan bagi dirinya sendiri.
Dengan bekerja manusia menjadi dirinya dan menjaga martabatnya. Coba renungkan. Tuhan memberikan semua fasilitas yang terhampar dan tersimpan di bumi, lalu manusia dianugerahi organ tubuh yang sangat canggih serta pikiran yang sangat hebat. Untuk apa semua itu jika tidak untuk berkarya memakmurkan bumi dan berbagi kasih sayang serta kebajikan dengan sesamanya?
Demikianlah yang selalu diulang-ulang oleh Alquran, bahwa anjuran beriman mesti selalu dikaitkan dengan perintah amal saleh. Yaitu perbuatan yang benar, baik, dan berguna. Ajaran ini akan dijumpai pada semua agama. Ciri orang yang beriman adalah mereka yang selalu berkarya di jalan yang benar dan baik, untuk tujuan kebenaran dan kebaikan. Tetapi bekerja sekadar benar dan baik belumlah cukup. Mesti ditambah nilai keindahan.
Banyak pekerjaan yang benar dan baik, tetapi belum tentu indah. Tanpa keindahan, kehidupan akan terasa kering. Tanpa kerja produktif, seseorang juga akan kehilangan harga diri. Jangan bayangkan seseorang akan merasa bahagia dengan mengandalkan warisan orangtua tanpa yang bersangkutan memiliki keterampilan kerja. Berulang kali saya bertemu pemuda yang merasa dirinya kaya, secara ekonomi berlimpah, namun hidupnya tidak bahagia karena tidak memiliki keterampilan dan kepandaian yang dibanggakan. Dia hidup bersama keluarganya dengan harta warisan orangtua yang telah meninggal.
Di hatinya dia merasa iri dan malu terhadap teman sebayanya yang bisa bekerja secara profesional dan hasil karyanya mendapat penghargaan dari masyarakat. Jadi, kerja, harga diri, dan kebahagiaan saling terkait, isi mengisi. Menjadi persoalan ketika bekerja secara terpaksa karena tidak ada pilihan lain. Yang demikian ini dialami oleh banyak penduduk Indonesia. Langkah pertama adalah mengembangkan keterampilan dan mencari pekerjaan yang cocok dan disenangi, entah di lingkungan lama ataupun yang baru.
Kedua, jika kondisi eksternal tidak bisa diubah, maka seseorang harus mengubah kondisi internal, yaitu belajar mencintai pekerjaan yang tersedia. Namun di atas semua itu, seseorang akan merasa bermakna hidup dan aktivitasnya kalau memiliki niat dan pandangan hidup yang mulia bahwa hidup adalah festival yang harus dirayakan dan hidup adalah anugerah yang mesti disyukuri serta dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan. Kalau kita bekerja semata mengharapkan insentif material-duniawi, bersiaplah untuk kecewa.
Kebaikan orang biasanya bersyarat dan terbatas. Orang cenderung memikirkan dirinya sendiri dan enggan berkorban serta memberi berlebih pada orang lain kecuali ada kalkulasi untung-rugi. Kecuali mereka yang benar-benar menghayati bahwa kemuliaan dan kebahagiaan itu justru terletak dalam mencintai dan memberi, bukannya meminta dan mengambil, sebagai rasa syukur pada Sang Pemberi Hidup. Jadi, berbahagialah mereka yang berhasil mempertemukan: bekerja, bermain, beramal saleh, bermasyarakat dan mensyukuri hidup. I work, therefore I am; bukannya, I have therefore I am. Eksistensiku ditandai dengan karyaku, bukan karena hartaku.(*)

*Ibi Abi dan Adung

Selasa, 22 Juli 2008

Dear Diary

Written by Hilla
Friday, 20 June 2008


Gelisah hati saat terbesit bayang mu
Walaupun ini tak terjadi hanya sekali
Tapi entah mengapa ku merasa tak biasa
Beban berat yang harus kupikul

Melupakan dia adalah siksaan
Siksaan terberat bagi ku
Ingin rasa nya aku men-delete
Semua ingatan tentang dia
Dan meninggalkan semua di belakang
Jauh-jauh di belakang
Sampai tak terlihat

Tapi aku nggak bisa
Hati ini terlalu sakit untuk tidak mengingatnya
Dan kenangan itu terlalu sulit untuk di lupakan
Sa’at menulis tulisan ini pun aku dalam ke’adaan luka
Darah menetes tiada hentinya
Luka yang kian melebar

Semuanya tertutupi oleh tawaku yang ku tebar
Nggak ada yang bisa ngobatin
Rasa sakit yang sudah lama aku simpan
Rasa kecewa yang lama aku tahan
Amarah yang meluap luap
Ingin rasanya aku barteriak
Bicara pada dunia
Bahwa aku marah,kecewa,menderita,dan tersiksa
Dia yang ku rasa penyebabnya
--------------------------

kiriman : Hilla kelas 9D

Senin, 07 Juli 2008

Al Munawwariyyah usia 25 tahun

Al Munawwariyyah usia 25 tahun ditandai dengan penanda tanganan prasasti pendirian SMK (TI) Al Munawwariyyah oleh KH. Maftuh Said (Al Munawwariyyah), Rektor Unisma Malang, INDOSAT, disaksikan Kepala SMK AL Munawwariyyah, siang ini 7 Juli 2008 di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah.
Persiapan Video Conference (VICON) peresmian SMK Al Munawwariyyah dengan UNISMA Malang, Kantor INFOKOM (Jakarta)
Sebelum Penandatangan Prasasti Peresmian SMK Al Munawwariyyah, telah berlangsung Pembukaan Bahtsul Masa'il PW NU Jatim di PP Al Munawwariyyah, dihadiri DR. KH Hasyim Muzadi, KH Said Agil Siraj (PB NU), Wakil Bupati Malang Rendra Kresna, dan peserta Bahtsul Masa'il dari berbagai kota, kabupaten di Jawa Timur.

Senin, 30 Juni 2008

Wisudawan-wisudawati Al-Munawwariyyah 2008

Usai sudah pelaksanaan pengokohan kelulusan siswa-siswi kelas akhir di lembaga yang berada di bawah yayasan Al-Munawwariyyah Malang.
Kebahagian dan suka cita tak bisa disembunyikan dari rawut wajah para peserta wisuda. Mewakili rekan-rekannya di tiap lembaga; SD, SMP dan SMA Al-Munawwariyyah, tiga utusan mempresentasikan kebahagian para siswa. Mereka adalah: Widianto, sebagai perwakilan dari SMA; Afifatul Izzah, perwakilan dari SMP; dan Sa'duddi, mewakili teman-temannya dari SD.
Berikut ini isi pidato sambutan dari ketiganya, dengan menggunakan tiga bahasa: bahasa Indonesia, dari utusan SD; bahasa Inggris, utusan dari SMP; dan bahasa Arab, utusan dari SMA:

PIDATO SAMBUTAN WAKIL SISWA

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

الْحَمْدُ لله رَبِّ اْلعَالَمِيْنَ، لَكَ الْحَمْدُ كُلُّهُ، وَلَكَ الشُّكْرُ كُلُّهُ، وَإِلَيْكَ يَرْجِعُ اْلأَمْرُ كُلُّهُ، عَلَي نِيتُهُ وسِرُّهُ، فَأَهْلٌ أَنْتَ أَنْ تُحْمَدَ، وَأَهْلٌ أَنْتَ أَنْ تُعْبَدَ، وَأَنْتَ عَلَي كُلِّ شَيْئٍ قَدِيْرٌ. اللَّهُمَّ لَكَ الْحَمْدُ حَتَّي تَرْضَي، وَلَكَ الْحَمْدُ إِذَا رَضَيْتَ، وَلَكَ الْحَمْدُ بَعْدَ الرِّضَا.
أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ الله وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِي إِلَى رِضْوَانِهِ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ سَيِّدِناَ وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحاَبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاهْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوْا قَوْلِى، أَماَّ بَعْدُ

*Yang selalu kami ta’ati, almukarram Romo Yai Maftuh Sa’id, selaku pimpinan sekaligus pengasuh PP. Al-Munawwariyyah…
*Yang kami hormati, jajaran dewan guru; baik SD, SMP, serta SMA Almunawwariyyah…
*Yang kami hormati, para pengurus Pondok Pesantren
*Bapak-bapak, Ibu-ibu; para tokoh masyarakat, segenap wali siswa SD, SMP dan SMA, yang berbahagia…
*Tak lupa juga, para kakak, serta saudara-saudaraku yang tercinta dan berbahagia…..

Kami yakini, besar dan banyaknya nikmat Allah yang telah terlimpahkan kepada kami, tak akan pernah mampu untuk dihitung. Saat ini, Allah kembali melimpahkan nikmat-Nya, khususnya kepada kami; berupa anugrah kelulusan yang pada saat ini sedang dilaksanakan pengokohannya.
Maka dihadapan pengasuh pondok, segenap dewan guru dan wali siswa; kami mewakili rekan-rekan para wisudawan dan wisudawati semuanya, untuk berkata dan mengikrarkan “ALHAMDULILLAHI SUMMA ALHAMDULILLAH”

أيها الشيخ والمدرسون الكرام
وبعد التحية والحمدلة والشكر، إلى الذي تقدست عن الأشباه ذاته، وتَنَزَّهَتْ عن مشابهة الأمثال صفاته، هو الله ربنا جل وعلا، ثم الصلاة والسلام على من لا نبي بعده سيدنا محمد وعلى آله وصحبه.
فنيابة عن الزملاء المتخرجين: إبتدائية كانت أم إعدادية أم ثانوية، نفضل من صميم قلوبنا الأعمق، جزيل الشكر لجميع من علينا الحقوق، وذلك بالتخصيص إلى حضرة الكريم الشيخ الحافظ الحاج مفتوح سعيد، الذي قد ربانا وحَمَيْنَا كوالدينا خلال عيشنا فى هذا المعهد المحبوب.
ولا ننسى كذالك أن نشكر وفيرا لجميع الأساتيذ والأستاذات كمعلمينا ومربينا.
حقا لن ننسى نحن كالدارسين، ولو مدة، بأن لنا الشيخ والمدرسون كالأباء والأمهات عندنا، إلى ما نصير كما هو الآن.
أيا المدعوون المحترمون
فى هذه الفطرة المباركة، نطلب منكم الدعاء الخالص، والتوجيهات النافسة من الشيخ الحافظ الحاج مفتوح سعيد و سائر الأساتيذ، لتكون هذه النعمة؛ النجاح فى الإمتحان، نافعة لحياتنا المستقبلة، خاصة لأصحابنا الذين لهم الود لمغادرة هذا المعهد المنورية، إستمرارا لدراستهم أو راجعين إلى مجتمعهم للخدمة.
وبالتالي، نشعر ونعترف بأن هذه النعمة ليست إلا فضلا من ربنا، أنشكر أم نحن من الكافرين.
فالعياذ بالله
Honorable teachers….
And than, from deep in our heart, we ask forgiveness to all of our teachers for our deliberate wrongness or unelaborated. We sure that we have done many-many mistakes, so, forgive us, please…
Really, we’ll make your advices that given to us, be considerable value lesson for our benefit life; to be a better than before. Amen…

Honorable audience…..
In this opportunity, we put the arm to remind us always, and never forget us, although we are going to leave our lovely school after a moment, but we are still your students like in formally; just because of our wishful to be god-fearing man and more seeking extensive sciences to higher level education, we have to leave it.
We desire to endeavor our life meaning-full in a future; Of course, we’ll never reach it without god-fearing and sciences. Khalifah Ali bin Abi Thalib said:
حَياَةُ الْفَتَى وَاللهِ بِالْعِلْمِ وَالتُّقَى # فَإِنْ لَمْ يَكُوْناَ لاَ اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
“Young’s life, wallahi, just with sciences and god-fearing, without both of them, his life really will not worth a rush. So, please pray for us to sweep our expectation.

Kepada bapak-bapak dan ibu-ibu kami,
sebagai anak, hanya terimakasih yang bisa kami ucapkan saat ini. Terimakasih yang sedalam-dalamnya kami sampaikan. Hanya dengan perjuangan dan pengorbananmu; yang telah membanting tulang, menguras keringat, tak mengenal hujan dan panas, bahkan tak jarang kepala dijadikan kaki, untuk mengantarkan kami menjadi seperti saat ini. Kami selalu berdo’a, mudah-mudahan semua itu tercatat sebagai amal ibadah di sisi Allah swt.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِوَالِدَيْناَ وَارْحَمْهُماَ كَمَا رَبَّياَناَ صِغاَراً
إخواني وأعزائ
أنبه نفسى وإياكم الذين يريدون الخروج من هذا المعهد المحبوب: حيا بنا نرفع سمعته بكوننا نافعين لوالدينا ودنيانا وأخرانا، وموقع هذا كله، على ظهورنا. عليها موقع سمعة معهدنا المنورية. نعمة هذا النجاح ليست بكل الشيء: بل يمكن ستنقلب هذه النعمة نقمةً،
متى لا نقدر على حفظها حق الحفظ.
فقد قال عليه الصلاة والسلام : "من ازداد علما ولم يزدد فى الدنيا زهدا لم يزدد من الله إلا بُعْداً"، فازهدوا أيها الإخوان....

Honorable teachers, parents, and all my lovely friends…
That’s all what we can deliver in this happiness full chance, to represent all of my friends.
Thanks for your attention and participation. We are so sorry for my rudeness and deliberate mistakes or unelaborated.

جزاكم الله أحسن الجزاء، واهدنا يا الله إلى صراطك المستقيم، صراط الذين أنعمت عليهم غير المغضوب عليهم ولا الضالين.
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Sabtu, 28 Juni 2008

RENCANA PENDIRIAN SMK TI


SEKILAS PROFIL
YAYASAN AL-MUNAWWARIYYAH
DAN RENCANA PENDIRIAN SMK

Pondok pesantren Al-Munawwariyah didirikan oleh KH. Muhammad. Maftuh Sa'id pada tanggal 28 Juli 1983 M, bertepatan dengan tanggal 7 Syawal 1402 H. Pesantren ini berlokasi di bagian selatan Kab. Malang, tepatnya di desa Sudimoro Rw. 04 Rt. 12 kec. Bululawang Malang.
Ada dua klasifikasi pembagian lembaga pendidikan di yayasan Al-Munawwariyyah: umum dan agama. Model pertama adalah lembaga-lembaga pendidikan di bawah struktur Diknas, yaitu: SDN III Sudimoro, SMP dan SMA Al-Munawwariyyah. Sedangkan model kedua adalah lembaga pendidikan agama sebagai usaha mandiri pesantren dalam rangka mensinergikan lembaga pendidikan Diknas seperti tertera di atas dengan keberadaan yayasan sebagai lembaga pendidikan Islam.
Ada tiga lembaga pendidikan agama di bawah asuhan yayasan, yaitu: Madrasah Islamiyyah Al-Munawwariyyah (MIM), Tarbiyyatul Qur’an Al-Munawwariyyah (Taqiyyah) dan Ma’had Tahfidul Qur’an (MTQ).
Sampai saat ini, bangunan fisik yang telah berdiri di atas tanah pondok seluas 1,5 Ha, dari luas tanah keseluruhan 3,5 Ha. Bangunan-bangunan tersebut meliputi: 21 ruang kelas; 6 asrama tempat tinggal para santri dan santri wati, masing-masing asrama terdiri dari 8 kamar dengan kisaran penghuni antara 15 sampai 20 santri/wati; masjid; dapur umum; Aula pertemuan; Lab Bahasa dan computer; 4 kantor: SD, SMP, SMA dan Lab Bahasa; 2 koperasi, putra dan putri; gedung unit kesehatan pondok; 2 gedung guest house; mushalla putra; 3 unit rumah tinggal dewan guru.
Dengan seizin Allah, pengasuh sudah mulai berencana akan melebarkan sayap bangunan fisik pesantren ke sisi sebelah utara pondok yang ada saat ini. Harapan ke depan, lokasi pondok untuk santri akan benar-benar terpisah dari lokasi pondok santriwati. Hal ini tidak terlepas dari kenyataan data santri yang semakin tahun kian bertambah.
Untuk tahun ini data santri yang berdomisili di dalam pondok tidak kurang dari 1200 orang, terdiri dari santri usia SD berjumlah 440 orang; siswa SMP berjumlah 430 orang, siswa SMA185 orang, dan santri yang mukim tanpa sekolah formal sebanyak 145 orang.
Kaitannya dengan rencana pendirian SMK, yayasan bermaksud memberikan alternatif bagi siswa-siswi SMP yang telah menyelesaikan pendidikannya agar bisa memilih antara lembaga SMA yang memang telah ada, dan SMK yang rencananya akan dibuka mulai tahun ini. Karena, setiap tahun ajaran baru, persentase lulusan SMP Al-Munawwariyyah yang melanjutkan ke jenjang SMA Al-Munawwariyyah sangat minim, rata-rata mereka keluar dari pondok untuk melanjutkan ke SMK.
Karena alasan inilah, dan beberapa alasan lainnya, yayasan bertekad mulai tahun ini akan mendirikan SMK dengan mengambil jurusan Tehnologi Informatika (TI). Jika harapan ini dapat terealisasikan, maka jumlah siswa-siswi tamatan SMP Al-Munawariyyah yang pada tahun ini berjumlah 107 orang, akan bertambah pilihan untuk meneruskan jenjang SLTA di yayasan Al-Munawwariyyah; SMA dengan program IPA dan IPS, dan SMK jurusan TI.

FATWA KH. MUH. MAFTUH SA'ID


Tiba sudah saatnya bagi siswa-siswi kelas akhir di lembaga pendidikan yang berada di bawah naungan yayasan Al-Munawwriyyah untuk menentukan ke mana akan meneruskan pendidikan yang lebih tinggi lagi setelah pengokohan kelulusannya dilaksanakan esok 29 Juni 2008. Atau, bagi yang langsung pulang ke masyarakat mereka, pengabdian apa yang bisa diberikan untuk kampung halaman. Berikut ini pesan dari Pengasuh PP. Al-MUnawwariyyah, baik bagi yang akan melanjutkan sekolah, atau yang langsung pulang ke kampung halaman.

Nasehat Pengasuh Pondok
الحمد لله رب العالمين حمدا يوافى نعمه ويكافى مزيده أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا رسول الله اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه والتابعين وتابعى التابعين أجمعين، أما بعد...

Anak-anakku sekalian, marilah selalu kita panjatkan puja dan puji syukur kepada Allah SWT, atas segala limpahan nikmat, ma’unah, taufiq serta hidayah-Nya, hingga kita sampai pada penghujung pendidikan di sekolah yang telah kalian jalani selama ini. Terlepas dari hasil ujian yang telah berlalu, Kiai ingin mengingatkan bahwa ujian adalah salah satu cara belajar dan bukan akhir dari proses pembelajaran.
Ujian, apapun namanya, bukanlah sebuah kebanggaan yang perlu dipamerkan jika kalian berhasil melewatinya dengan sukses; bukan pula kenistaan jika saat ini kalian masih belum sukses melewatinya, alias belum lulus. Sekali lagi, ujian hanya alat untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kalian belajar di sekolah, baik SMP atau SMA Al-Munawwariyyah ini. Jadi jangan menyombongkan kelulusan dan jangan putus asa jika saat ini masih belum lulus.
Sebagai siswa-siswi yang santri, substansi keberhasilan belajar kalian tergantung bagaimana bersikap sebagai pelajar yang muslim dan muslimah. Dalam hal ini, prilaku serta akhlak kalianlah yang menjadi standar keberhasilan belajar. Karena sesungguhnya, pembelajaran adalah bertujuan untuk membentuk pribadi-pribadi yang saleh yang tangguh untuk menghadapi hidup yang sejatinya akan kalian temui saat kembali dari pesantren dan berbaur di tengah masyarakat luas.
Sebagai nasehat Kiai, berikut ini ada pesan dari Rasulullah yang bersabda:
عن علي رضي الله عنه أن النبي قال:"من ازداد علما ولم يزدد فى الدنيا زهدا لم يزدد من الله إلا بعدا (رواه ابن أبي شيبة والحاكم)
Diriwayatkan dari sahabat Ali Ra, bahwasanya Rasul bersabdah: “Barang siapa yang bertambah ilmunya, tapi tidak menambah kezuhudannya, maka sesungguhnya ia akan semakin jauh dari bimbingan serta hidayah Allah.” (HR. Ibnu Abi.Syaibah dan Hakim)
Kiai ingin kalian menjadi generasi yang pintar, berilmu luas, tapi Kiai lebih mengingikan kalian semakin mendekatkan diri kepada Allah. Sudah banyak orang-orang yang pintar, tapi mereka tidak semakin bahagia dengan ilmunya, malah tersiksa dan diperbudak ilmu. Jadikan ilmu sebagai budak kalian. Teruslah belajar serta dekatkanlah diri kepada Allah SWT.
Akhirnya, Kiai berpesan, walaupun saat ini kalian akan meninggalkan pesantren Al-Munawwariyyah untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi, atau ingin mengabdi kepada orang tua, Kiai akan selalu dan tetap menganggap kalian adalah anak-anak Kiai yang selalu akan kiai do’akan: mudah-mudahan kalian menjadi para generasi penerus yang berguna bagi agama, nusa dan bangsa. Amin…





KH. Moh. Maftuh Sa’id
(Pengasuh PP. Al-Munawwariyyah)

Selasa, 24 Juni 2008

Selamat Untuk SMP Al-Munawwariyyah

Perasaan senang mendengar kabar bahwa para siswa-siswi SMP yang diketuai oleh Bapak Junaidi, S.Pd, telah selesai mengikuti UAN dan lulus seratus Persen. Meski saat pengumuman saya sedang di Bali, namun itu tidak menguirangi rasa syukur saya sebagai pengajar di SLTP yang berada di bawah naungan yayasan Al-Munawwariyyah. Selamat dan sukses selalu