Jumat, 13 Juni 2008
Acer Extansa untuk Guru Akhirnya Datang Juga
Lama sekali menanti kabar kedatangan si Acer Extansa 4620, hampir tiap hari selalu ditanyakan kpd kawan2 yang mengurus pengadaan ini, : "yok opo ono kabar a?", "Durung !!" jawab yg sering terdengar. Kali ini tanggal 7 Juni 2008 siang hari meluncur dengan semangat baru 4 PC Core 2 Duo, 13 Acer Extensa 4620, dan sebuah Acer 4720, 1 buah 2920z, dan 3 acer 2920 segera menyusul akan segera hadir. Semoga semakin menambah daya kerja.
Jumat, 09 Mei 2008
Keutamaan Ilmu

Keutamaan Ilmu Pengetahuan
Pada suatu ketika Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah menyatakan bahwa dirinya diibaratkan sebagai kota ilmu, sementara Ali bin Abi Thalib adalah gerbangnya ilmu. Mengetahui ada hadits rasul di atas, sekelompok kaum Khawarij[1] kurang bahkan ada sebagian yang tidak mempercayainya. Mereka tidak percaya, apa benar Ali bin Abi Thalib cukup pandai sehingga ia mendapat julukan "gerbang ilmu" dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Berkumpullah sepuluh orang dari kaum Khawarij. Kemudian mereka bermusyawarah untuk menguji kebenaran pernyataan Rasulullah tersebut. Seorang di antara mereka berkata, "Mari sekarang kita tanyakan pada Ali tentang suatu masalah saja. Bagaimana jawaban Ali tentang masalah itu. Kita bisa menilai seberapa jauh kepandaiannya. Bagaimana? Apakah kalian setuju?" "Setuju!" jawab mereka serentak. "Tetapi sebaiknya kita bertanya secara bergiliran saja", saran yang lain. "Dengan begitu kita dapat mencari kelemahan Ali. Namun bila jawaban Ali nanti selalu berbeda-beda, barulah kita percaya bahwa memang Ali adalah orang yang cerdas.""Baik juga saranmu itu. Mari kita laksanakan!" sahut yang lainnya. Hari yang telah ditentukan telah tiba.
Orang pertama datang menemui Ali lantas bertanya, "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?" "Tentu saja lebih utama ilmu," jawab Ali tegas. "Ilmu adalah warisan para Nabi dan Rasul, sedangkan harta adalah warisan Qarun, Fir'aun, Namrud dan lain-lainnya," Ali menerangkan. Setelah mendengan jawaban Ali yang demikian, orang itu kemudian mohon diri. Tak lama kemudian datang orang kedua dan bertanya kepada Ali dengan pertanyaan yang sama. "Manakah yang lebih utama, ilmu atau harta?" "Lebih utama ilmu dibanding harta," jawab Ali. "Mengapa?" "Karena ilmu akan menjaga dirimu, sementara harta malah sebaliknya, engkau harus menjaganya."
Orang kedua itu pun pergi setelah mendengar jawaban Ali seperti itu. Selanjutnya orang ketiga datang menyusul dan bertanya seperti orang sebelumnya: "Bagaimana pendapat tuan bila ilmu dibandingkan dengan harta?" Ali menjawab: "Harta lebih rendah dibandingkan dengan ilmu?" "Mengapa bisa demikian tuan?" tanya orang itu penasaran. "Sebab orang yang mempunyai banyak harta akan mempunyai banyak musuh. Sedangkan orang yang kaya ilmu akan banyak orang yang menyayanginya dan hormat kepadanya."
Setelah orang itu pergi, tak lama kemudian orang keempat pun datang dan menanyakan permasalahan yang sama. Setelah mendengar pertanyaan yang sama, Ali pun kemudian menjawab, "Ya, jelas-jelas lebih utama ilmu." "Apa yang menyebabkan demikian?" tanya orang itu mendesak. "Karena bila engkau pergunakan harta," jawab Ali, "jelas-jelas harta akan semakin berkurang. Namun bila ilmu yang engkau pergunakan, maka akan semakin bertambah banyak."
Tak lama kemudian, orang kelima dan mengajukan pertanyaan serupa. Ali pun menerangkan: "Jika pemilik harta ada yang menyebutnya pelit, sedangkan pemilik ilmu akan dihargai dan disegani."
Orang keenam lalu menjumpai Ali dengan pertanyaan yang sama pula. Namun tetap saja Ali mengemukakan alasan yang berbeda. Jawaban Ali tersebut ialah, "Harta akan selalu dijaga dari kejahatan, sedangkan ilmu tidak usah dijaga dari kejahatan, lagi pula ilmu akan menjagamu."Dengan pertanyaan yang sama, orang ketujuh datang kepada Ali. Pertanyaan itu kemudian dijawab Ali, "Pemilik ilmu akan diberi syafa'at oleh Allah Subhaanahu wa Ta'ala di hari kiamat nanti, sementara pemilik harta akan dihisab oleh Allah kelak."
Kemudian kesepuluh orang itu berkumpul lagi. Mereka yang sudah bertanya kepada Ali mengutarakan jawaban yang diberikan Ali. Mereka tak menduga alasan yang diberikan Ali sebagai jawaban selalu berbeda. Sekarang tinggal tiga orang yang belum melaksanakan tugasnya. Mereka yakin bahwa tiga orang itu akan bisa mencari celah kelemahan Ali. Sebab ketiga orang itu dianggap yang paling pandai di antara mereka.
Orang kedelapan menghadap Ali lantas bertanya, "Antara ilmu dan harta, manakah yang lebih utama wahai Ali?" "Tentunya lebih utama dan lebih penting ilmu," jawab Ali."Kenapa begitu?" tanyanya lagi."Dalam waktu yang lama," kata Ali menerangkan, "harta akan habis, sedangkan ilmu malah sebaliknya, ilmu akan abadi."
Dengan pertanyaan serupa, orang kesembilan datang "Seseorang yang banyak harta", jawab Ali pada orang ini, "akan dijunjung tinggi hanya karena hartanya. Sedangkan orang yang kaya ilmu dianggap intelektual." Tiba giliran orang terakhir, dengan pertanyaan yang sama. Ali menjawab, "Harta akan membuatmu tidak tenang dengan kata lain akan mengeraskan hatimu. Tetapi, ilmu sebaliknya, akan menyinari hatimu hingga hatimu akan menjadi terang dan tentram karenanya."
Ali pun kemudian menyadari bahwa dirinya telah diuji oleh orang-orang itu. Sehingga dia berkata, "Andai kata engkau datangkan semua orang untuk bertanya, insya Allah akan aku jawab dengan jawaban yang berbeda-beda pula, selagi aku masih hidup."
Kesepuluh orang itu akhirnya menyerah. Mereka percaya bahwa apa yang dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam di atas adalah benar adanya. Dan Ali bi Abi Thalib memang pantas mendapat julukan "gerbang ilmu". Sedang mengenai diri Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam sudah tidak perlu diragukan lagi.
Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah berkata:
حَياَةُ الْفَتَى وَاللهِ بِِالْعِلْمِ وَالتُّقَى # فَإِنْ لَمْ يَكُوْناَ لاَ اعْتِبَارَ لِذَاتِهِ
“Kehidupan seorang pemuda –demi Allah– harus memiliki ilmu dan ketaqwaan # jika tanpa keduanya, maka kehidupannya tidak akan ada nilainya (tidak berharga)”
[1] Kaum Khawarij adalah kelompok umat Islam yang menentang keinginan khalifah Ali bin Abi Thalib untuk berdamai dengan Bani Umayyah; sedangkan mereka yang mendukung ketetapan sayyidina Ali tersebut disebut sebagai kelompok Syi’ah.
Jumat, 25 April 2008
Polisi menemukan Kecurangan UN 2008 di SUMUT
Kamis, 24 April 2008 | 21:44 WIB
MEDAN, KAMIS – Di Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara secara mengejutkan Kepolisian Resor Deli Serdang menetapkan 16 guru dan seorang kepala Sekolah Menengah Atas Negeri Lubuk Pakam 2 sebagai tersangka pelaku kecurangan UN Rabu siang. Mereka kedapatan membetulkan jawaban soal ujian siswa di sekolahnya. Penetapan sebagai tersangka itu dilakukan setelah Detasemen Khusus 88 Polda Sumut memergoki mereka membetulkan jawaban siswa.
"Mereka terbukti menjawab soal siswa. Detasemen khusus 88 memergoki mereka di ruang khusus sekolah itu. Saat ini kami mewajibkan mereka lapor dua kali seminggu. Belum ada yang kami tahan karena mereka bersikap kooperatif," tutur Kepala Satuan Reserse Kriminal PolresDeli Serdang, Ajun Komisaris Polisi (AKP) Ruruh Witjaksono, Kamis (24/4).
Ibadah Malaikat, pasif
DENGAN IBADAH, MANUSIA
DIHARAPKAN MENGUNGGULI MALAIKAT
Oleh: Zulfan Syahansyah
Jika boleh dibedakan, ibadah ada dua macam:
aktif dan pasif. Jenis pertama adalah ibadah para malaikat,
dan lainnya adalah sebutan untuk ibadah manusia.
Penghambaan kepada Allah swt,
akan menjadi ibadah setelah melalui tahapan fungsi akal.
Itulah hakekat ibadah manusia. Berbeda dengan malaikat,
yang dapat dipastikan mereka mengerjakan perintah Allah,
karena memang malaikat tidak bisa berbuat salah;
tidak mempunyai kecendrungan untuk meninggalkan perintah.
Hanya manusia yang bisa berperan sebagai Waliyullah, Nabi bahkan Rasul; seperti halnya bisa menjadi bajingan, penzina atau pembunuh.
Malaikat, jelas tidak memiliki julukan penjahat, dan tidak juga bisa menjadi Waliyullah.
Ditinjau dari segi bahasa, kata “ibadah” adalah satu akar kata dengan “‘abdun”, hamba. Karena itu beribadah berarti tindakan menghambakan diri, melakukan kebaktian. Dan beribadah merupakan tujuan diciptakannya manusia, Aku menciptakan jin dan manusia hanya supaya beribadah kepada-Ku (Q., 51: 56). Selain memiliki pengertian demikian, ayat ini juga bisa ditafsirkan sebagai penegasan bahwa nature (fitrah) manusia adalah beribadah. Hal ini didasarkan pada adanya “perjanjian primordial” antara manusia dengan Tuhan sebelum lahir ke dunia. Isi dari perjanjian itu adalah persaksian kita manusia bahwa Allah menjadi “Pangeran”, “Rabb” kita. Tentu saja ini terjadi pada alam ruhani, karenanya tidak menjadi kesadaran lahiriah kita, melainkan mengendap dalam kedirian kita yang paling dalam.
Menarik untuk dipermasalahkan: kenapa batas penegasan tercipta untuk beribadah hanya jin dan manusia saja? Bukankah selain kedunya masih banyak makhlu-makhluk Allah lainnya? Dalam keimanan kita, selain Dzat Allah, semua yang ada di langit, bumi beserta isinya adalah makhluk; termasuk juga malaikat. Jika dikatakan bahwa nikamat terbesar yang diberikan Allah untuk para makhlunya adalah anugerah kepatuhan untuk menjalankan perintah, malaikatlah penerima terbanyak kenikmatan besar tersebut. Lalu kenapa hanya Jin dan Manusia yang diperintahkan untuk beribadah? Ayat di atas tidak mencantumkan malaikat.
***
Hakekat Malaikat dan Manusia
Keberadaan malaikat yang terdapat di dunia gaib menjadi sebab utama ke-alpa-an kajian teori ilmiah tentang makhluk yang tercipta dari cahaya ini. Kajian-kajian seputar malaikat hanya bisa dirujuk melalui kitab-kitab suci. Kendati demikian, tidak ada keterangan pasti mengenai siapa (apa) sosok malaikat. Sekarang ini yang perlu ditekankan adalah meyakini keberadaannya dengan keyakinan haqqu al-yaqin, seperti halnya meyakini kehidupan setelah mati; bukan keyakinan oportunis: “percaya saja mungkin nanti benar, kalau tidak benar juga toh tidak apa-apa”. Model keyakinan kedua ini akan berdampak pasif pada keimanan seorang mukmin.
Menurut riwayat, sejak masa penciptaannya, hingga hari qiyamat, para malaikat hanya melakukan apa yang telah diperintahkan Allah. Mereka yang diperintahkan untuk bertasbih, sepanjang waktu hanya bertasbih yang dilakukan. Demikian juga yang mendapatkan tugas memberi rizqi, mencatat amal, dan sebagainya, sepanjang belum qiyamat, tuga-tugas tersebut yang dikerjakan tanpa pernah ada upaya melanggar. Digambarkan dalam Al-Qur’an bahwa malaikat itu sangat taat pada Tuhan, “mereka mengerjakan segala yang diperintahkan” (Q.,16:50; 66:6).
Dapat dibayangkan para malaikat tidak mempunyai emosi ataupun nafsu, yang pada puncak perkembangannya menjadi apa yang kita sebut sebagai cinta. Berbeda dengan manusia yang dikaruniai emosi. Dalam batasan tertentu, dengan emosi manusia dapat menuju puncak kemuliaan tertinggi, atau sebaliknya terjerembab ke dasar lembah paling hina. Kekuatan berkeinginan akan berjalan lurus dengan emosi tersebut, agar manusia dapat menjalankan tugas kekhalifahannya di muka bumi; membawa manusia lebih dekat kepada sifat ketuhanan.
Kita juga dapat menduga bahwa malaikat tidak memiliki kemauan sendiri, inisiatif bebas: modal dasar untuk melahirkan inofasi. Kesempurnaan “prilaku” malaikat hanya menjadi cerminan kesempurnaan Tuhan. Hal ini menafikan kehormatan untuk tugas kekhalifahan, seperti yang disandang manusia. Khalifah yang sempurna, tentu makhluk yang memiliki kemampuan berinisiatif sendiri, namun kebebasan tindakannya tetap mencerminkan kehendak Sang Kepala (Principal, yakni Tuhan).
Jadi, hakekat malaikat adalah makhluk suci yang hanya berdimensi tunggal, yakni dimensi kesucian itu sendiri, sebagai akibat kebaktiannya yang penuh kepada Tuhan. Sisi lain yang tidak ada pada malaikat, namun dimiliki oleh manusia adalah emosi. Sisi inilah yang membedakan antara hakekat manusia dengan malaikat: emosi, hawa nafsu, hasrat atau keinginan.
Ibarat senjata, emosi dapat menjadi perisai manusia menuju kemuliaan, tetapi juga dapat menjadi “senjata makan tuan”. Dalam surah Yusuf ayat 53 dijelaskan, melalui ucapan seorang wanita yang pernah menggoda Yusuf putra Ya’qub, bahwa emosi atau nafsu itu tidak boleh dilepaskan secara bebas, karena akan dengan kuat mendorong pada kejahatan, kecuali jika mendapatkan rahmat dari Tuhan; yang dengan rahmat itu nafsu justru akan mendorong kepada kebaikan atau prestasi keunggulan.
***
Manusia Sebagai Khalifah
Saat Allah menegaskan keinginan-Nya untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, para malaikat menyatakan keraguannya dengan memberikan alasan bahwa manusia akan membuat kerusakan dan pertumpahan darah di muka bumi; sementara mereka selalu berbakti kepada Tuhan dan tidak pernah melanggar perintah; sebagai konsekuensi hakekat malaikat yang hanya satu sisi(Q., 2:30). Malaikat melihat kekuatan emosi manusia sebagai sumber bencana, namun mereka gagal melihat emosi sebagai sumber tenaga ke arah keluhuran jika dipergunakan secara benar dan baik.
Dalam surat Al-Tîn dikatakan, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik (Q., 95:4). Manusia adalah puncak ciptaan Tuhan. Dikatakan juga: “man was created upon the image of God”: bahwa manusia diciptakan menurut desain Tuhan. Maksudnya, di antara semua makhluk Tuhan yang paling sempurna, karena itu secara hierarkis yang paling bisa mendekati Tuhan, adalah manusia. Tetapi harus diperhatikan ayat lanjutannya, Kemudian Kami jatuhkan dia serendah-rendahnya (Q., 95:5). Maksudnya, sangat mungkin Tuhan mengembalikan manusia menjadi makhluk yang paling rendah, bahkan lebih rendah daripada binatang. Kenapa? Karena manusia yang jahat bisa menjadi lebih jahat daripada binatang. Sebagai contoh, macan itu jahat, tapi setelah menerkam dan memakan manusia, dia kembali diam. Tetapi manusia bisa membunuh ratusan, bahkan ribuan orang sekaligus. Maka disebutkan, Kecuali mereka yang beriman dan mengerjakan amal kebaikan (Q., 95: 6). Artinya, manusia itu akan tetap menempati kehormatannya sebagai sebaik-baik makhluk dan tidak akan merosot menjadi makhluk yang paling rendah kalau beriman dan beramal saleh.
Hakekat dan Makna Ibadah
Hakikat ibadah dalam Islam bukanlah untuk memenuhi kepentingan Allah Swt. Sama sekali tidak akan mengurangi kemuliaan atau kebesaran-Nya kalau saja seluruh manusia di muka bumi ini tidak menyembah kepada-Nya. Namun, perlu diingat bahwa hakikat perintah ibadah dalam Islam adalah untuk kepentingan manusia itu sendiri, bukan untuk memberikan pelayanan kepada Allah Swt. karena Dia sama sekali tidak membutuhkan pelayanan makhluk.
Kemudian, terciptanya manusia dengan dua sisi sekaligus; kebaikan dan keburukan, menjadikan peranan akal begitu dominan. Tidak salah jika dikatakan bahwa keunggulan manusia dengan makhluk lainnya adalah penganugrahan akal fikiran. Pemberian Allah yang hanya dikhususkan bagi anak Adam, sebagai modal utama menjadi khalifah Allah di muka bumi: satu hal yang pernah diragukan oleh para Malaikat, namun ditampik tegas oleh Allah. (QS. 2:30)
Hanya dengan akal, tugas kekhalifahan manusia dapat dijalankan. Dengannya pula, bisa dibedakan antara kebaikan dan keburukan. Penghambaan kepada Allah swt, dikatagorikan sebagai ibadah setelah melalui tahapan fungsi akal. Kepasrahan mengerjakan kewajiban dan meninggalkan larangan Allah (beriman, berislam, dan bertaqwa), bernilai ibadah setelah kita berhasil menaklukkan sisi kejahatan. Inilah yang penulis maksudkan sebagai ibadah aktif. Kewajiban melaksanakan sholat, misalnya, jika mendengarkan sisi kejahatan, bisa saja kita tidak mengerjakannya. Toh ada kecendrungan ke sana. Berbeda dengan malaikat, mereka pasti mengerjakan perintah Allah, karena memang tidak mempunyai kecendrungan untuk meninggalkan perintah. Jadi ibadah para malaikat adalah iabadah yang pasif; tidak ada ijtihad untuk “berperang” melawan hawa nafsu.
Dengan pemahaman ini, menjadi jelas kenapa malaikat tidak ditegaskan dalam penciptaannya, untuk beribadah; makhluk-makhluk lain, termasuk hewan juga tidak disuruh beribadah. Cuma kita manusia dan para jin yang diperintah untuk itu. Maka, penulis menyimpulkan: bahwa ibadah adalah upaya untuk menundukkan sisi kejahatan di bawah sisi kebaikan. Hanya makhluk Allah yang berpeluang melakukan kejahatan dan “dipersenjatai” akal lah yang bisa beribadah. Selebihnya, wallahu a’lam bi alshawab.
Doa Ujian
الفاتحة x 1
رسول الله x 1 صحابة x 1 اوراع تووا x 1
1. استغفار x 3
2. صلوات x 3
3. رَبِّ اَنْزِلْنِى مُنْزَلاً مُّباَرَكاً وَّ اَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْنَ x 99
4. رَبِّ لاَتَذَرْنِى فَرْدًا وَ اَ نْتَ خَيْرُ الْوَارِثِيْنَ x 99
Sabtu, 12 Januari 2008
Ikut Seminar Nasional di VEDC
- Onno W. Purbo dari Jakarta dengan materi Wajan Bolic + perpustakaan Digital,
- Agus Heri (Edittag) pakar blogger dari Bandung mempersembahkan "Blog untuk guru, mengapa tidak? Blog sebagai penghasil dollar!",
- M. Aries Syafogi, dengan Game Teknologi
- Wahyu Purnomo (VEDC Malang), membawakan "Cara cepat membuat bahan ajar berbasis Web, Tanpa perlu tahu HTML!!"
- Toha Mustofa dengan materi "Memanfaatkan Google Aps. untuk freehosting email Sekolah"
Setiap peserta mendapatkan sertifikat Seminar Nasional Bonus CD softcopy materi seminar prig
Ket Foto :
P. Khotib dapat kenangan dari Panitia karena keaktifan interaktif dalam seminar.
Senin, 05 November 2007
Sambutan Kepala Sekolah

Puji syukur saya panjatkan ke Hadirat Allah SWT. yang telah mencurahkan karunia Nya sehingga SMP Al Munawwariyyah telah memiliki web site sebagai wujud komitmen kami terhadap pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi ( Information Communication Technologi) dalam dunia pendidikan. Peluncuran website ini menandai suatu paradikma baru bahwa SMP Al Munawwariyyah Sudimoro Bululawang ikut berpartisipasi dalam pengembangan teknologi informasi dalam lingkup pendidikan khususnya pendidikan di Pondok Pesantren Al Munawwariyyah.
Dari website ini harapan kami dapat memberikan informasi terbuka seputar pendidikan SMP Al Munawwariyyah Sudimoro Bululawang kepada masyarakat umum termasuk Wali murid yang lokasinya sangat berjauhan. Alamat para wali murid yang berada jauh dari sekolah akan sangat efektif dan efisien dengan adanya media komunikasi web site ini.
Saran Kritik yang membangun sangat kami harapkan untuk kemajuan pendidikan SMP Al Munawwariyyah.
Wassalamu alaikum Wr. Wb.
Bululawang, 5 Nopember 2007
Kepala Sekolah
Moh. Junaidi, SPd.